Aku masih menggunakan jam tanganku, warnanya coklat, kulit, seperti menempel di kulit saat kupakai. Dua batang jarumnya hampir bersentuhan di angka 12. Hampir rapat, seperti saling ingin mencumbu tapi malu-malu. Aku menoleh lagi mencari-cari tembok yang tadi sudah kulukis dengan bayangan wajahmu yang sekiranya kuingat. Aku ingat letak temboknya yang menghadap ke timur menuju jalan ke rumahmu, yang jalan menuju pintunya mungkin sedang ditiduri 2 kucing kesayanganmu yang salah satunya kau ambil dari jalan. Tapi mereka manis, katamu begitu, aku percaya. Lalu aku ingat lagi tentang tembok itu, sepertinya sudah kutemukan. Tapi bayangannya terhapus, atau mungkin tidak terlihat saat itu, karena temboknya hitam sama seperti kamarku, hanya ada cahaya yang berpendar dari layar telepon genggamku yang kutaruh diatas kasur. Cahayanya samar,seperti rindu yang tergerus jalannya waktu. Dalam hati aku berdo'a, "tolong,jangan..".
Akhirnya jarum-jarum di jam tanganku pun meregang kembali, ada jarak kali ini di antara mereka. Seperti 2 tubuh yang sudah lelah atau mungkin puas sudah saling menghisap kulit satu sama lain hingga keriput, lalu terkoyak dan akhirnya terlepas dari dagingnya, tapi tak apa,pikir mereka,
"toh, nanti kulitku dan kamu akan tumbuh kembali, lalu saat tiba waktunya aku bertemu denganmu di putaran waktu berikutnya, kulitku dan kamu sudah utuh kembali, lalu kita mulai lagi seperti yang tadi. Dari awal."
Mereka pastilah bersyukur,pikirku dalam hati. Mereka punya putaran waktu yang sama,walaupun memang yang satu berjalan lebih cepat dari yang lain, tapi waktu mereka sama. Dan mereka akan selalu kembali tepat pada waktunya. Akupun mengeluh,aku punya dua waktu. Satu di jam tanganku dan satu di telepon genggamku. Kadang aku mengeluh karena mereka bergerak terlalu cepat, seperti saat ini. Dan kadang aku terlalu enggan untuk berkeringat mengejarnya. Kadang aku menggerutu pada mereka,"santailah sedikit."
Ya, kadang aku memang pemalas.
Aku berharap sebuah percakapan kecil dimulai saat ini, saat memang seharusnya kita memulainya. Tentang bukit yang semuanya diselimuti rerumputan, pohon rindang dan bunga warna-warni yang namanya tidak kita hafal semua. Tentang keranjang piknik dan kelinci-kelinci yang seharusnya datang ketika paskah, tapi mereka datang lebih cepat, karena aku memanggilnya dengan perasaan gembira dan telah kujanjikan mereka akan kubuatkan pelangi di ujung bukit agar mereka bisa berseluncur di atasnya. Lalu terakhir, tentu saja tentang lagu yang kutahu berjudul Senandung maaf, yang kupilih sebagai musik latar. Walupun memang liriknya tidak enak. Tapi, tak apalah.
Sudah cukup jauh melewati pertengahan malam. Jarum di jam tangan ku semakin jauh meninggalkan jarum yang satunya, dan sepertinya jaringan-jaringan kulit mereka sudah mulai terbentuk. Telepon genggamku berbunyi 'klik' sekali. Senyumku sudah terbentuk setengah ketika kutahu bahwa telepon genggamku tidak salah mengeja namamu di layarnya. Pintar. Lalu aku tersenyum lagi, berharap itu sebuah salam pembuka untuk sebuah percakapan kecil. Aku mengeja hurufnya satu per satu.
"Sleep tight.." tertulis disitu.
Sebuah helaan napas,
lalu aku pergi tidur.
No comments:
Post a Comment